Azka, seorang gadis belia. Di usianya yang menginjak 19 tahun, ia mulai mencoba hidup mandiri, terbebas dari ikatan orang tuanya. Ia mencari uang sendiri, dan tinggal sendiri di sebuah kos-kosan. Sekarang ia kuliah Universitas Setiabudhi Bandung, semester 3. Sayangnya, untuk urusan pasangan, Azka tidak mendapat kebebasan. Azka dilarang oleh orang tuanya berpacaran dengan kekasihnya, Aliff, teman satu kampusnya. Orang tuanya memaksa Azka untuk menikah dengan anak dari teman Papanya yang merupakan pemilik suatu perusahaan besar di Jakarta. Dia adalah Darren, pria yang berusia 3 tahun diatas Azka.
Azka yang tak ingin dinikahi oleh laki-laki yang tak dikenalnya itu, memutuskan kabur dari rumah. Ia pergi tanpa membawa alat komunikasi apapun. Ia hanya membawa dompet berisi uang sebesar Rp 100000,-. Ia pergi meninggalkan Kota Bandung ke desa terpencil yang memungkinkan tidak diketahui oleh orang tuanya. Setelah uangnya habis untuk mebayar ongkos bis, ia tak bisa membeli makanan maupun minuman sampai akhirnya dirinya yang kelelahan tertidur di sebuah pos ronda di dekat pohon pisang. Sekitar pukul 5 pagi, seorang ibu datang dan menemukan Azka terlelap.
"Neng, bangun! Neng, bangun!" ibu tua itu mengguncang-guncangkan badan Azka.
Azka terbangun dengan wajah pucat dan tangan yang dingin. Ibu tua itu merasa kasihan melihat Azka, kemudian membawa Azka kerumahnya untuk ikut beristirahat dan sarapan. Ibu tua ini bernama Bu Sri. Ia memiliki seorang anak laki-laki bernama Zakariah tapi biasa dipanggil Zak atau bahasa kerennya Jack. Azka menceritakan keadaan dirinya yang kabur dari rumah dan meminta izin untuk ikut tinggal beberapa hari. Bu Sri mengizinkan Azka menginap dan tidur di kamar milik Jack. Selama tinggal di desa, Azka ikut membantu Bu Sri berjualan pepes tahu dan ikan. Jack terpesona dengan kecantikkan Azka, ia ingin memiliki Azka sepenuhnya.
Sampai pada suatu hari, hari yang paling tak diinginkan oleh Azka datang. Saat Azka sedang terlelap tidur di kamar, Jack yang dalam keadaan teler mendobrak pintu kamar. Ia mencoba untuk memperkosa Azka. Azka yang menyadari kehadiran Jack langsung berteriak minta tolong. Ibu Sri yang melihat tingkah tidak sopan anaknya ini langsung memukulnya dengan sapu lidi. Ibu Sri terus memukul Jack tiada henti sampai akhirnya hansip datang. Hansip membawa Jack ke kantor polisi atas tuduhan pelecehan seksual. Sejak kejadian itu Azka terus menangis tiada henti setiap hari. Tidak makan maupun minum.
Bu Sri tidak sanggup menghadapi tingkah Azka, ia langsung menyerahkan Azka ke Rumah Sakit Jiwa. Di RSJ, Azka mendapat perawatan dari seorang dokter bernama dr. Hady Dri Atmoko. Ia adalah psikiater termuda di RSJ ini. Hady merawat Azka dengan sangat baik. Berangsur-angsur Azka mulai bisa berhenti menangis. Tapi ia masih saja di kelilingi oleh perasaan-perasaan negatif dan takut. Azka menyalahkan Tuhan atas semua kejadian yang menimpanya terakhir ini.
"Tuhan! Sudah cukup kau jauhkan aku dari Aliff! Kini kau mau aku kehilangan keperawananku, hah?! Katanya kau Maha Pengasih dan Penyayang, semuanya bohong! NIHIL!"
Itulah kata-kata yang terus diteriakan Azka di kamarnya. Dr. Hady rasa untuk menyembuhkan penyakit Azka yang satu ini adalah dengan membawa Azka ke Pesantren milik kakeknya, H. Amir. Setelah 3 bulan perawatan di rumah sakit, kini Azka melanjutkan perawatannya di Pesantren. Tiap minggu Hady datang memeriksa perkembangan kesehatan Azka. Suatu hari dr. Hady datang lagi untuk mengecek Azka. Dr. Hady mencari Azka ke kamarnya tapi ia tak ada disana. Kemudian Hady mencari di taman belakang pesantren. Di taman ia melihat seorang gadis yang duduk sambil mengaji. Suaranya sungguh merdu membuat dr. Hady berhenti sejenak untuk mendengar suaranya.
"Cari Azka, Hady?" tanya sang Kakek sambil memegang bahu dr. Hady. "Yang sedang mengaji itu Azka, pasienmu."
Dr. Hady terkejut luar biasa. Tak menyangka pasiennya bisa berubah 180 derajat seperti ini. Azka yang menyadari kehadiran Hady segera menghampiri dr. Hady. Dengan mengenakan kerudung biru muda, baju lengan panjang putih dan rok yang senada dengan kerudung membuatnya terlihat sangat cantik.
"Assalamu'alaikum, dokter!" sapa Azka. Sebuah senyuman terukir di bibirnya. "Apa kabar?" tanya Azka lagi.
"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah baik, bagaimana dengan kamu?" jawab Hady dan seterusnya.
Sejak hari itu Hady dan Azka menjadi akrab dan dekat. Tak diduga ternyata dokter muda ini jatuh cinta kepada pasiennya. Karena rasa cintanya, ia ingin sekali mempertemukan Azka dengan orang tuanya. Dengan meminta bantuan sang kakek, dr. Hady meminta alamat lengkap ataupun nomor telepon rumah Azka. Setelah mendapatkannya, dr. Hady segera menelpon keluarganya Azka dan mengatakan bahwa putrinya ada di Pesantren milik H. Amir di Cianjur. Setelah menadapat kabar keberadaan Azka, orang tuanya segera bergegas pergi menuju pesantren ini.
Keesokan harinya Azka sedang membaca di kamarnya.
Tok! Tok!
"Azka, ditunggu Pak Haji, di ruang tamu!"
Ia menutup bukunya, ia keluar dari kamarnya melangkahkan kakinya ke tempat dimana H. Amir berada. Azka tak tahu, kenapa H. Amir memanggilnya. Begitu sampai di ruang tamu, bola matanya mendapati dua orang yang sangat ia kenal berada disana. Kemudian tetes air mata jatuh di pipinya, ia tak menduga bisa bertemu kembali dengan orang tuannya. Azka langsung berlari dan berlutut di kaki ibu dan ayahnya. Ia meminta maaf atas sikapnya selama ini. Ibunya langsung memeluk Azka dengan bercucuran airmata. Orang tua Azka juga meminta maaf karena memaksakan kehendak mereka supaya Azka menikah dengan Darren. Azkapun dibawa pulang ke rumahnya.
1 bulan kemudian...
"Assalamu'alaikum!" suara laki-laki dari luar pintu rumah Azka.
Azka segera membuka pintunya, "Wa'alaikumsalam. Dokter?"
Azka terkejut dengan kedatangan dr. Hady. Kemudian Azka mempersilakan masuk. dr. Hady tak sendirian, ia datang bersama kedua orang tuanya. Ia bermaksud untuk mengkhitbah Azka. Azka terharu luar biasa. Tak bisa dipungkiri Azka sebenarnya juga menyayangi dr. Hady. Kali ini orang tua Azka tak lagi melarangnya untuk memilih pasangan hidupnya. Azka dan Hady akhirnya menikah dan bahagia selamanya...
Rabu, 18 Agustus 2010
Selasa, 17 Agustus 2010
Campeones del Mundo, Espana!


Sudah lama tidak menulis disini, rasa-rasanya jadi amatiran lagi.hahahhaa... :p
Okelah saya mau buat tulisan tentang Piala Dunia 2010 yang sangat luar biasa!! Walau dah sebulan lebih lewat, tak apalah! hahaha..
Piala Dunia 2010 menurut saya merupakan salah satu piala dunia yang menghebohkan dunia! Kenapa? Ini alasannya:

1 -> PD kali ini diselenggarakan di benua Afrika untuk pertama kalinya.
2 -> Vuvuzela menjadi alat tiup terpopuler sekaligus dibenci.
3 -> Kinerja wasit yang sangat buruk di beberapa pertandingan.
4 -> Prediksi Pulpo Paul yang sangat tepat!
5 -> Tim jagoan saya,Spanyol, menjadi JUARA DUNIA untuk PERTAMA kalinya!!!
Betapa menyenangkannya 2 Piala Dunia terakhir (2006 dan 2010) ini. Karena dua negara yang saya jagokan di dua piala dunia tersebut berkahir dengan mengangkat trophy yang terbuat dari emas murni itu. Italia dan Spanyol. Saya bisa menebak mereka juara karena skuad yang mereka bawa saat itu. *Bukan karena saya seperti Pulpo Paul*
Italia juara dunia karena tim yang komplet. Hal itu berlaku juga di PD 2010. Timnas Italia tidak sekomplet dulu, justru tim yang sangat komplet jatuh pada tim yang menjadi juara Eropa dua tahun sebelumnya, Spanyol! Dibuktikan tidak ya? Saya yakin semua juga tahu Spanyol tuh tim yang sangat komplit seperti timbel komplit! *apa sih??*
Let's check this out!
Kiper -> Casillas, Reina, Valdez *mantap nih semuanya kiper utama di klub masing2*
Bek -> Ramos, Capdevilla, Puyol, Pique *Kuartet tangguh di depan gawang*
Tengah: Iniesta, Xavi, Fabregas, Silva, Busquets, Xabi, Navas *banyak bgt lah! ganteng2 pula!:drolling:*
Depan -> Villa, Torres *duo maut nan mengigit! hahaha*

Terbukti kan? Walau tak mencetak banyak gol, Spanyol bermain sangat atraktif dan indah. Dan yang paling spesial tentu saja "FAIR PLAY"!! Spanyol mendapatkan kartu paling sedikit di PD 2010 sama seperti raihan mereka 4 tahun yang lalu. Banyak yang meragukan Spanyol setelah menlan kekalahan di pertandingan perdana melawan Swiss. Begitupun saya. Jujur saja, saya sampai menangis karena Spanyol kalah *lebay ye?hihi*. Tapi saya tetap optimis dengan timnas Spanyol hingga akhirnya memang Spanyol-lah juaranya!
ESPANA CAMPEONES DEL MUNDO! GRACIAS PULPO PAUL! \(^o^)/
Walau begitu, saya tetap cinta Indonesia dan selalu berharap + yakin kalau Indonesia bisa juga seperti timnas Spanyol, menjadi juara dunia untuk pertama kalinya!! AKU CINTA INDONESIA! MERDEKA!
Minggu, 06 Juni 2010
Short Story: The Sweet of Struggle
“GOAAALLL!!!”
All players hugged Theo and lifted him up. His name was shouted by all supporters in the Stadium. Because of his goal, Arsenal U-15 could beat Chelsea U-15 1-0. Theo as the captain, lifted the trophy up happily and proudly. Besides that, he got an individual award as The man of the match. What a wonderful moment that wouldn’t be forgotten by Theo. A reporter came to him and gave a question for Theo, “Whom will you be grateful for all this achievement?”
“My late mother, Anna Collin and My lovely Father, William Collin. Without their prayers and supports, I wouldn’t be like this. Thanks Pa, this trophy is for you.”
***
17 years ago, at a little town near London, There lived a young boy named Theo Collin. He had white skin and short black hair. His nose was sharp and his eyes’ color was blue. Her mother died when his age was a week. His father worked in ball factory. Since he was born, his body was very weak. He couldn’t do many activities like the other kids did. His activities were sleeping and drawing anything near his house only.
One day, Theo who was 8 years old, brought his drawing book and a pencil to a Lake. He drew a Lotus on it. When he was drawing seriously at one of lake side, he heard crowded voice from the field. Theo wondered what was happening there. And then he saw some kids were playing football there. Theo was amazed with what he saw. A kid was dribbling a ball and then he shot it to a goal beautifully. He ran to his house. At house, he tore all papers from his drawing books. He made a ball from all that papers and wrapped it with plastic. And then he took two empty canes. He put them at the same line and the distance between them was 3 meters. Now, He was ready to play football. He put the handmade ball 5 meters in front of the goal. And then he kicked it. The ball flew into the goal. Theo was running to celebrate his goal like the real football players. His dad who saw his son’s doing felt so affected.
On the next day, when Theo was having breakfast, Mr. Collin made a surprise. He gave his son a ball that he took it from the factory where he worked. Theo felt very happy. He hugged his dad. And then, he ran out and dribbled it happily. After that day, Theo always brought his ball everywhere he wanted to. Even he slept with the ball beside him. Mr. Collin admitted his son was talented in football. So he spent his saving to pay Theo’s football school in London.
Theo practiced three times a week. He was never absent except when he was sick. But when Theo was 11 years old, his father had no money to pay the bus fare to London. So, he stopped practicing in the club. But Theo promised himself, he would get much money to buy bicycle. So his father needn’t to pay the bus fare. To get much money, he was selling newspaper and bathed horses. But he never forgot to keep playing football. After working hard, the money had been collected. He bought a bicycle. The bicycle was not brand new. It was just a secondhand bicycle. On the next day, he started to join in Football School again.
Mr. Anderson, Theo’s coach, admired Theo’s skill and Theo’s effort to be a professional player. Although he never practiced in Football School, Theo’s game was not worse than others. So Mr. Anderson registered Theo at Arsenal U-15 Selection. After two weeks selection, Theo passed the Arsenal U-15 Selection. He rode his secondhand bicycle fast. He hugged his father as he broke into tears of happiness. His father was so proud of his son. Being an Arsenal’s player was Mr. Collin’s dream and his son could make it come true.
***
Theo and his father went to Mrs. Collin grave. The grave was very clean, Mrs. Collin’s photo was mounted on her gravestone. Theo put his medallion on the grave.
“Ma, this is for you. Thanks for your struggle for my birth into this world. I miss you Ma.” Theo kissed his mother’s gravestone. Then, he stood up and hugged his father. They left the graveyard and went home with happy face.
All players hugged Theo and lifted him up. His name was shouted by all supporters in the Stadium. Because of his goal, Arsenal U-15 could beat Chelsea U-15 1-0. Theo as the captain, lifted the trophy up happily and proudly. Besides that, he got an individual award as The man of the match. What a wonderful moment that wouldn’t be forgotten by Theo. A reporter came to him and gave a question for Theo, “Whom will you be grateful for all this achievement?”
“My late mother, Anna Collin and My lovely Father, William Collin. Without their prayers and supports, I wouldn’t be like this. Thanks Pa, this trophy is for you.”
17 years ago, at a little town near London, There lived a young boy named Theo Collin. He had white skin and short black hair. His nose was sharp and his eyes’ color was blue. Her mother died when his age was a week. His father worked in ball factory. Since he was born, his body was very weak. He couldn’t do many activities like the other kids did. His activities were sleeping and drawing anything near his house only.
One day, Theo who was 8 years old, brought his drawing book and a pencil to a Lake. He drew a Lotus on it. When he was drawing seriously at one of lake side, he heard crowded voice from the field. Theo wondered what was happening there. And then he saw some kids were playing football there. Theo was amazed with what he saw. A kid was dribbling a ball and then he shot it to a goal beautifully. He ran to his house. At house, he tore all papers from his drawing books. He made a ball from all that papers and wrapped it with plastic. And then he took two empty canes. He put them at the same line and the distance between them was 3 meters. Now, He was ready to play football. He put the handmade ball 5 meters in front of the goal. And then he kicked it. The ball flew into the goal. Theo was running to celebrate his goal like the real football players. His dad who saw his son’s doing felt so affected.
On the next day, when Theo was having breakfast, Mr. Collin made a surprise. He gave his son a ball that he took it from the factory where he worked. Theo felt very happy. He hugged his dad. And then, he ran out and dribbled it happily. After that day, Theo always brought his ball everywhere he wanted to. Even he slept with the ball beside him. Mr. Collin admitted his son was talented in football. So he spent his saving to pay Theo’s football school in London.
Theo practiced three times a week. He was never absent except when he was sick. But when Theo was 11 years old, his father had no money to pay the bus fare to London. So, he stopped practicing in the club. But Theo promised himself, he would get much money to buy bicycle. So his father needn’t to pay the bus fare. To get much money, he was selling newspaper and bathed horses. But he never forgot to keep playing football. After working hard, the money had been collected. He bought a bicycle. The bicycle was not brand new. It was just a secondhand bicycle. On the next day, he started to join in Football School again.
Mr. Anderson, Theo’s coach, admired Theo’s skill and Theo’s effort to be a professional player. Although he never practiced in Football School, Theo’s game was not worse than others. So Mr. Anderson registered Theo at Arsenal U-15 Selection. After two weeks selection, Theo passed the Arsenal U-15 Selection. He rode his secondhand bicycle fast. He hugged his father as he broke into tears of happiness. His father was so proud of his son. Being an Arsenal’s player was Mr. Collin’s dream and his son could make it come true.
Theo and his father went to Mrs. Collin grave. The grave was very clean, Mrs. Collin’s photo was mounted on her gravestone. Theo put his medallion on the grave.
“Ma, this is for you. Thanks for your struggle for my birth into this world. I miss you Ma.” Theo kissed his mother’s gravestone. Then, he stood up and hugged his father. They left the graveyard and went home with happy face.
Senin, 12 April 2010
Pendapatku Tentang Kepantasan Rio vs Lintar di GF Idola Cilik 3

Seperti yang kita ketahui, Rio wakil dari Manado dan Lintar wakil dari Padang berhasil menjadi Grand Finalis Idola Cilik 3 RCTI stelah menyisihkan Alvin wakil dari Malang. Banyak Pro dan Kontra terhadap keputusan ini... Kalau saya sih dengan sangat jelas PRO dengan pasangan ini untuk melaju ke Grand Final.. Kenapa?? Inilah Alasan saya...
Rio pantas di Grand Final karena:
1. Kualitas vokal yang luaaaaar biasa!
2. Pandai berimprovisasi yang mebuat lagu jadi berbeda dan lebih indah dari aslinya.
3. Jago dance walau sering nyanyi lagu mellow.
4. Murah senyum.
Lintar pantas di Grand Final karena:
1. Kualitas vokal yang setiap minggu semakin baik dan lebih baik.
2. Teriakan saat dia menyanyi mengelegar seperti namanya, haliLINTAR!
3. Matanya bersinar penuh percaya diri diatas panggung.
4. Senyumnya manis.
Jadi Lintar dan Rio sangat pantas masuk ke Grand Final karena kualitas mereka. Menurut saya Lintar disini tidak menjual kisah seperti yang dikatakan beberapa orang. Lintar memang layak menemani Rio di Grand Final... Kalau Rio memang sangat pantas! Komentator saja sudah mengakui keunggulan Rio, begitupun para sobat cilik di luar sana... Semua pasti Setuju Rio maju ke Grand Final.
Dan sekarang saya mau berandai-andai....
1. Seandainya Nova yang masuk 3 besar, bisa lain cerita. Bisa saja prediksi komentator pasangan GF adalah ga cuma Lintar-Rio tapi juga Rio-Nova atau Lintar-Nova, karena kualitas mereka merata. Ga kayak tadi yang hampir semuanya bilang Lintar-Rio.
2. Kalau saja Rio dipasangkan dengan Alvin di GF, saya enggak tega ngeliat Alvin. Pasti kebanting sama Rio. Karena dari segi kualitas vokal, Alvin kalah jauh dari Rio. Kita bisa lihat pada saat Alvin duet dengan Rio di lagu 'Lelaki Hebat'. Dance-nya Rio lebih baik dari Alvin.
3. Kalau saja Lintar sama Alvin di Grand Final, banya orang yang bakal bilang mereka ga cuma jual suara tapi juga jual cerita sedih Lintar yg korban gempa dan jual wajah putih dan ganteng Alvin. Jadi Icil tuh sebenernya kompetisi nyanyi bukan sih kalau yang gitu yang dijual?
Itulah menurut pendapat saya. Maaf untuk Alvinozta atau D'LinStar yang mungkin tak suka dengan tulisan saya ini. Tapi ini pendapat saya dan mencoba untuk objektif. Trims.
Selasa, 06 April 2010
Broken Heart (again)
Hoaaaahm.....
dah berapa lama ya ga nulis di blog?? haduu haduuu....
Sekalinya nulis, curhat tentang patah hati deh..huhu... kasian amat yee...
Suatu hari aku mulai jatuh cinta lagi... Setelah sekian tahun cinta ini bertahan ditancapkan pada satu orang (masih sii sampe skarang juga). Orang yang aku suka tergolong orang yg baru datang di kehidupanku tp serasa dah kenal lama. Memang dia ga setampan laki-laki yang aku suka sebelumnya, tapi ada yang berbeda darinya yang bikin aku tertarik... Kita jadi temen deket aja pokoknya... sering sms-an and chat di YM...
Lama kelamaan ada perasaan berbeda... fuuih... perasaan itu muncul begitu saja... Aku sendiri gatau.. aku malah takut ini cuma perasaan sesaat aja...
Lama... Lama.... Lama....
Deg! Dapet kabar dia jadian sama cwe lain! Aku syok! Kenapa syok?? Soalnya aku pernah baca di komen statusnya klo ga salah. Dia bilang dia ga mau punya cwe dulu takut ngecewain. Tapi sekarang??!! UUUUGGGHH..... Dia menelan ludahnya sendiri!!! I'm not hoping to be his someone special, but hoping he won't disappoint me. But the fact is....
OK... It's fine!! Aku ikhlas!! Karena cerita cintaku selalu berakhir begini!! Ga pernah ada satupun yang membalas!! Tapi aku masih punya harapan pada satu orang yang memang aku sayang dari dulu... Memang harapan itu tak terlalu besar, tapi feelingku slalu mengatakan dia untukku...
Tapi aku ga akan pernah benci sama orang ini, karena aku ga mau perasaan sayang jadi benci. Aku bahagia melihatnya bahagia... Aku mau jadi temannya karena memang itu yang terbaik...
Yang pasti aku selalu yakin, "Someday My Prince will come..."; "I know there someone somewhere, someone who's sure to find me soon"; "Soon a happy ending"....
dah berapa lama ya ga nulis di blog?? haduu haduuu....
Sekalinya nulis, curhat tentang patah hati deh..huhu... kasian amat yee...
Suatu hari aku mulai jatuh cinta lagi... Setelah sekian tahun cinta ini bertahan ditancapkan pada satu orang (masih sii sampe skarang juga). Orang yang aku suka tergolong orang yg baru datang di kehidupanku tp serasa dah kenal lama. Memang dia ga setampan laki-laki yang aku suka sebelumnya, tapi ada yang berbeda darinya yang bikin aku tertarik... Kita jadi temen deket aja pokoknya... sering sms-an and chat di YM...
Lama kelamaan ada perasaan berbeda... fuuih... perasaan itu muncul begitu saja... Aku sendiri gatau.. aku malah takut ini cuma perasaan sesaat aja...
Lama... Lama.... Lama....
Deg! Dapet kabar dia jadian sama cwe lain! Aku syok! Kenapa syok?? Soalnya aku pernah baca di komen statusnya klo ga salah. Dia bilang dia ga mau punya cwe dulu takut ngecewain. Tapi sekarang??!! UUUUGGGHH..... Dia menelan ludahnya sendiri!!! I'm not hoping to be his someone special, but hoping he won't disappoint me. But the fact is....
OK... It's fine!! Aku ikhlas!! Karena cerita cintaku selalu berakhir begini!! Ga pernah ada satupun yang membalas!! Tapi aku masih punya harapan pada satu orang yang memang aku sayang dari dulu... Memang harapan itu tak terlalu besar, tapi feelingku slalu mengatakan dia untukku...
Tapi aku ga akan pernah benci sama orang ini, karena aku ga mau perasaan sayang jadi benci. Aku bahagia melihatnya bahagia... Aku mau jadi temannya karena memang itu yang terbaik...
Yang pasti aku selalu yakin, "Someday My Prince will come..."; "I know there someone somewhere, someone who's sure to find me soon"; "Soon a happy ending"....
Langganan:
Postingan (Atom)